Archive for the 'Berita' Category

Hampir 50 orang dilaporkan mengalami depresi setelah mencoba obat tersebut yang telah mendapatkan lisensi di Inggris setahun yang lalu

Ada 52laporan mengalami mimpi abnormal, 49 pusing, 82 sakit kepala dan 67 muntah-muntah.

US Food and Drug Administration sudah mengumumkan melakukan penyelidikan pada obat stop merokok setelah menerima laporan tersebut.

Info lebih lengkap silahkan kunjungi : http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/7115696.stm

JAYAPURA, JUMAT - Buah merah yang banyak tumbuh di dataran tinggi Papua tidak memiliki efek yang dapat mematikan virus HIV dalam tubuh seseorang, demikian pernyataan resmi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, dr Nafsiah Mboi Sp.A.
“Dari hasil penelitian, buah-buahan dan sayur-sayuran yang berwarna merah mengandung anti oksidan yang berperan meningkatkan daya tahan tubuh. Meskipun begitu, buah merah tidak bisa membunuh virus HIV,” tegas Nafsiah di Jayapura, Jumat (23/11).

Nafsiah mengungkapkan, informasi di kalangan masyarakat Papua yang menyebutkan buah merah dapat mengobati virus HIV dan penyakit AIDS merupakan informasi yang menyesatkan, bahkan dinilai sebagai bentuk pembohongan terhadap publik.

Seseorang yang telah terinfeksi virus HIV, tetap dianjurkan mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan berpola hidup teratur agar daya tahan tubuhnya tidak menurun. Selain itu, yang bersangkutan harus rutin mengkonsumsi obat Anti Retro Viral (ARV) untuk menghambat laju pertumbuhan virus HIV dalam tubuhnya.

Terkait dengan peningkatan kasus HIV/AIDS di Papua yang sangat signifikan dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan, Nafsiah mengatakan masih ada waktu dan kesempatan untuk menyelamatkan Papua dari ancaman kepunahan.

Nafsiah memaparkan data KPA Nasional tentang kelompok yang paling beresiko tinggi tertular HIV/AIDS yakni pengguna narkoba suntik, Pekerja Seks Komersial (PSK) dan pelanggannya, kaum homoseksual, serta warga binaan Lembaga Pemasyarakatan.

Khusus di Papua, katanya, pengguna narkoba suntik prosentasenya sangat minim yang hanya terdapat di Kota Jayapura dan Sorong. Demikian pun dengan kelompok PSK di Papua jumlahnya tidak signifikan. Kelompok ini bisa diberi pembinaan untuk menggunakan kondom saat melakukan transaksi seks dengan pelanggannya.

“Sebetulnya kita bisa mengatasi kasus HIV/AIDS di Papua. Kuncinya terletak pada kita semua, kita tidak boleh hipokrit, munafik dan memfitnah orang lain. Kita semua baik orang Papua maupun pendatang sama-sama bertanggung jawab untuk menyelamatkan Papua,” kata Nafsiah. (ANT/wsn)

Sumber: http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0711/23/053929.htm

“Polisi Nakal” Akan Dipublikasikan
Rabu, 19 September 2007
Rakyat Sudah Jenuh dengan Perilaku Negatif Polisi

Jakarta, Kompas - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Sutanto menyatakan sepakat dengan usulan untuk memublikasikan kepada masyarakat tentang polisi yang berperilaku negatif dan merugikan rakyat. Menurut Sutanto, dalam reformasi Polri, yang paling sulit adalah perubahan kultural.
Publikasi polisi nakal tersebut didesak anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam rapat kerja, Senin (17/9). Hal itu menyusul maraknya keluhan tentang perilaku negatif polisi yang mengganggu dan merugikan publik di berbagai daerah. Kondisi tersebut jauh dari jargon Polri selama ini sebagai pengayom masyarakat.

Menurut Sutanto, meskipun di tingkat Mabes Polri telah berupaya untuk mengubah perilaku negatif tersebut, di lapangan masih banyak polisi yang berperilaku menyimpang. Salah satu cara yang ditempuhnya selama ini adalah menerjunkan sejumlah perwira menengah ke berbagai daerah untuk mengakomodasi keluhan masyarakat terkait kinerja kepolisian.
Contoh “Kenakalan Polisi”
Menilang kendaraan bermotor dan meminta sejumlah uang.
Bersikap arogan dan mengancam orang untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Meminta tunjangan hari raya dari masyarakat.
Melakukan razia kendaraan bermotor tanpa memasang papan razia dan tidak memberitahu tujuan razia.
Berbuat tidak senonoh kepada perempuan.
Bersikap diskriminatif terhadap masyarakat.
Menangkap seseorang tanpa sangkaan jelas atau tanpa barang bukti, misalnya, dalam kasus narkoba.
Memukuli dan memaksa tersangka untuk mengakui sesuatu.
Memanipulasi berita acara pemeriksaan.
Meminta biaya penyidikan.

*Dari beberapa sumber

“Kalau faktanya memang masih rusak, harus diperbaiki. Terima kasih saran untuk mengumumkan polisi yang baik dan buruk. Itu hal bagus, akan kami tindak lanjuti,” ujar Sutanto.

Salah seorang anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Benny K Harman, mengaku sangat prihatin dengan masih banyak keluhan rakyat, terutama di daerah, tentang kenakalan atau perilaku negatif polisi. Kenakalan yang dimaksud, misalnya, penyalahgunaan wewenang, bersikap arogan, dan terutama memeras rakyat.

“Sebetulnya, napas saya sesak kalau bicara soal reformasi kultural polisi. Selama ini hukumannya cuma mutasi atau dicopot dari jabatan. Itu tidak cukup menimbulkan efek jera,” katanya.

Benny mengatakan, boleh-boleh saja polisi beralasan maraknya perilaku negatif tersebut karena masih rendahnya gaji dan tunjangan polisi selama ini. Namun, hal itu bukanlah argumentasi yang tepat untuk dijadikan justifikasi atas kenakalan polisi. Rakyat luas yang sengsara.

“Banyaknya keluhan di rakyat soal polisi bisa menjadi cermin soal kegagalan atau keberhasilan reformasi kultural di kepolisian,” ujar Benny.

Perbaikan kesejahteraan

Kepada Komisi III DPR, Sutanto mengatakan, perubahan kultur polisi juga harus diimbangi dengan perbaikan kesejahteraan anggota dan kecukupan biaya operasional. Kedua hal tersebut menjadi penyebab terjadinya penyimpangan oleh anggota polisi di lapangan.

Sebelumnya, anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Novel Ali, mengatakan, selain isu perbaikan kesejahteraan, polisi di tingkat bawah juga sangat membutuhkan teladan dari para pimpinannya di Polri.

Masalahnya, menurut Novel Ali, tidak sedikit anggota polisi yang di jajaran pimpinan pun di masa lalunya terjebak dalam situasi yang sama seperti bawahannya kini. Dengan demikian, terpeliharalah krisis keteladanan di tubuh Polri. “Ini jadi semacam lingkaran setan. Sementara rakyat sudah sangat jenuh menjadi korban,” kata Novel.

Novel pekan lalu juga sempat menyatakan kekecewaannya karena ratusan keluhan rakyat tentang polisi yang masuk ke Kompolnas tidak disikapi secara responsif oleh Mabes Polri. Dari sekitar 400 keluhan yang masuk, baru 10 persen yang ditindaklanjuti oleh Mabes Polri.

Lodi (50), warga Setiabudi Jakarta Selatan, juga mengaku sangat jenuh dengan perilaku polisi saat ini. Jika melihat polisi di jalanan bukanlah rasa aman yang tercipta di benak, namun justru rasa waswas sekalipun dirinya tidak merasa berbuat salah.

“Sudah jenuh, tetapi bingung mau ngadu ke mana? Kami cuma bisa ngadu ke wartawan karena kalau diberitakan baru masalahnya diperhatikan,” ujar Lodi, yang pekan lalu mengadu ke Kompas tentang polisi, yang menangkap dan menahan kerabatnya tanpa bukti yang jelas. (sf)

Sumber: Harian Kompas, 18 September 2007

SumberĀ :http://www.mediakonsumen.com/Artikel898.html