Archive for October 2007

Salah satu gangguan yang menyebabkan pasangan sulit mendapat keturunan adalah kurangnya jumlah sperma. Untuk meningkatkan produksi sperma dalam cairan semen, para ahli menyarankan agar hubungan seksual dilakukan setiap hari. Makin banyak yang keluar, makin baik kualitasnya.

Jumlah spermatozoa yang terdapat dalam cairan semen (cairan yang dikeluarkan pria pada saat ejakulasi) merupakan penentu keberhasilan pembuahan. Yang normal, jumlah spermatozoa sekitar 20 juta/ml. Pada pria, ditemukan kasus spermatozoa yang kurang (oligozoospermia) atau bahkan tak ditemukan sel sperma sama sekali (azoospermia).

Selama ini pasangan yang sedang mengikuti terapi kesuburan disarankan untuk melakukan hubungan seks beberapa hari sekali agar jumlah sel sperma makin banyak. Namun studi terbaru yang dilakukan oleh tim dari Universitas Sydney, Australia, justru berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, pria yang mengalami kelainan sperma sebaiknya melakukan hubungan seks setiap hari agar kualitasnya semakin baik.

Dalam studinya, para ahli dari Australia tersebut melibatkan 42 pria yang sel spermanya mengalami kelainan bentuk. Sperma yang normal berbentuk seperti kecebong, terdiri dari kepala, tubuh dan ekor. Kelainan seperti kepala kecil atau tak memiliki ekor akan mempengaruhi pergerakan sperma, yang pada akhirnya mempersulit sel sperma mencapi sel telur.

Para pria tadi lalu diminta untuk melakukan ejakulasi setiap hari selama seminggu. Hasilnya lalu dibandingkan dengan mereka yang ejakulasi tiga hari sekali. Ternyata pria yang ejakulasi setiap hari, jumlah sperma yang rusaknya makin berkurang jika dibandingkan dengan yang ejakulasi beberapa hari sekali.

Menurut Dr Allan Pacey, sekretaris the British Fertility Society, mengatakan berhubungan seks beberapa hari sekali memang meningkatkan jumlah sperma, namun ada kesenjangan antara kualitas dan kuantitas. “Hasil studi ini menunjukkan ejakulasi setiap hari akan mengurangi kerusakan DNA, sedikit banyak ini berpengaruh terhadap kesuburan,” katanya. Jadi jumlah sperma sedikit asalkan kualitasnya baik, tentu akan lebih mudah mencapai sel telur. Sumber:BBC Penulis: An

http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0710/18/101455.htm

Sudah lama saya mempunyai Credit Card, dan penggunaannya hanya terbatas pada proses ‘gesek aja’. Namun sudah beberapa waktu yang lalu saya mencoba menggunakan untuk transaksi online via internet. Rasa ingin tahu “kok bisa” itu yang membuat saya mencobanya. Ternyata hanya dengan menggunakan nomor kartu, nama dikartu, valid thru dan 3 digit terakhir yang dikenal dengan nama CVV (credit verification value) yang biasanya tercetak dibelakang credit card maka credit card saya sudah terdebet. Wow??

Setelah itu saya baru tahu bahwa no CVV adalah berfungsi sebagai tanda tangan saya bila transaksi melalui internet atau transaksi yang istilahnya card-not-present transaction. Setelah mengetahui fungsi no
CVV tersebut saya jadi teringat bagaimana saya dan teman-teman saya atau bahkan Anda saat ditawarin credit card baru oleh sales-sales bank yang banyak terdapat di mal-mal, yang hanya membutuhkan fotocopy credit card bolah balik dan fotocopy ktp.Tentu saja semua data yang bisa digunakan card-not-present transaction telah terfotocopy bukan!!!

Timbul pemikiran kenapa nomor CVV tersebut harus tercetak di fisik credit card, sehingga nomor tersebut paten tidak bisa diganti-ganti? Kenapa tidak diperlakukan seperti pin saja? Malahan sekarang khan sudah ada yang debit card Visa yang juga ada 3 digit terakhir yang di cetak di belakang kartu debit, busyet debit card yang notabene uang tunai, buat belanja online. Lebih parah lagi kalau data kartu debit bisa ketahuan.

Cari-cari lewat Google apakah ada jawaban untuk pertanyaan diatas. Akhirnya saya menemukannya, bukan jawaban sebenarnya hanya tips untuk menghindari nomor CVV ketahuan orang lain (lewat fotocopy untuk aplikasi credit card atau terpinjamnya credit card oleh kasir saat kita belanja dll). Adalah dengan mengingat nomor CVV tersebut dan menempelkan stiker untuk menutup nomor tersebut atau bahkan dengan menghapusnya dari fisik credit/debit card, tentu saja dengan sedikit merusak kartu tersebut. Bila perlu ganti kartu dengan yang baru tentu saja dengan nomor CVV yang baru juga bila data telah terekspose.
Ini hanya sekedar pemikiran pribadi tentang bahayanya credit/debit card dengan nomor CVV yang tercetak pada fisiknya.

Bahan:

http://economictimes.indiatimes.com/ To_protect_your_credit_card_erase_the_CVV_no/ rssarticleshow/2325167.cms

Bagi pemakai motor dan mobil, tentu adalah hal yang biasa untuk mengganti ban yang sudah aus dengan sebuah ban baru. Namun tahukah bahwa sebuah ban terdapat kode yang menyatakan kapan ban tersebut di produksi.

Pada saat membeli ban baru cari 4 digit angka yang terletak pada salah satu sisi ban. Dua digit pertama menunjukkan minggu keberapa dan 2 digit selanjutnya menunjukkan tahun kapan ban tersebut diproduksi.

Contoh bila ketemu angka 2407 maka ban tersebut diproduksi pada tahun 2007 minggu ke 24.

Jadi sebelum membeli ban baru teliti terlebih dahulu kode tersebut diatas untuk menghindari terbelinya ban yang merupakan stok lama atau kadaluarsa.

http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0710/04/164724.htm

Jakarta, KCM - Jika motivasi saja tak cukup kuat untuk menghentikan kebiasaan merokok, kini ada pilihan baru yang bisa membantu Anda, yakni dengan obat berbahan aktif varenicline produksi PT.Pfizer Indonesia yang peluncurannya di lakukan hari ini di Jakarta (4/10).

Sulitnya berhenti merokok, menurut dr Irawan Rustandi, Medical Director PT.Pfizer Indonesia, disebabkan karena pengaruh nikotin yang terhirup bersama asap rokok. “Nikotin merupakan salah satu satu dari 4000 senyawa kimia yang terdapat dalam rokok dan akan mencapai susunan saraf pusat di otak dalam dua detik setelah kita menghisap rokok,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, nikotin yang sampai di otak akan menempel pada reseptor otak yang bernama alfa 4 beta 2, sehingga merangsang pelepasan transmiter saraf dan melepaskan dopamin yang akan memberikan efek fisiologis seperti rasa nikmat dan tenang. “Saat kita tidak merokok kadar dopamin lama kelamaan akan berkurang, sehingga badan merasa tidak enak, tidak bisa konsentrasi, lalu kita akan mencari rokok lagi untuk dihisap, ini tarafnya sudah kecanduan,” ujarnya.

Perokok yang sudah kecanduan otomatis akan sulit menghentikan kebiasaannya. Ditambah lagi dengan munculnya gejala <em>craving</em> dan <em>withdrawal </em>(putus obat), seperti sulit berkonsentrasi, gelisah, dan sebagainya. Untuk memutus siklus tersebut Irawan mengatakan pentingnya intervensi klinis seperti varenicline.

Menurut Irawan, varenicline merupakan terapi pengganti nikotin tanpa memasukkan nikotin ke dalam tubuh. “Obat ini bekerja hanya di reseptor alfa 4 beta dua namun merangsang reseptor sebagian untuk menghasilkan dopamin dalam jumlah sangat kecil, sehingga tidak muncul gejala putus obat,” paparnya. Dengan obat tersebut para perokok tidak akan merasakan kenikmatan saat merokok dan meski berhenti merokok gejala-gejala ketagihan akan berkurang.

Para perokok yang ingin berhenti merokok disarankan meminum obat ini selama 12 minggu sebelum tanggal yang ditentukan untuk berhenti. “Jadi tentukan dulu tanggal berhenti merokok,” tambah Irawan. Efek samping dari obat yang diresepkan dengan dokter ini, antara lain rasa mual, sakit kepala, insomnia, dan muncul mimpi abnormal. Meski penelitian membuktikan 44 persen pengguna varenicline mampu berhenti merokok selamanya, namun dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar tetap diperlukan.